+ -

Monday, July 18, 2016

Mencoba Untuk Menceritakan Hidup Yang Tidak Terlalu Menarik Untuk Diceritakan Ini


Termasuk diri sendiri yang tidak percaya bahwa kehidupan bisa membawa saya dalam kubikel kantor. Bekerja dari pukul 10 pagi sampai 8 malam. Senantiasa berpikir bahwa seharusnya masih ada dibangku kuliah. Senin sampai Jumat, berkutat dengan itu-itu lagi, lalu merayakan Sabtu dan Minggu sebagai sebuah hari raya! yey!

Sejujurnya ada sesuatu di dalam kepalaku yang mulai sok tau tentang kehidupan : Apa hidup seperti ini?

Sebenarnya tidak ada yang salah. Salah itu kan sebuah konsep pemikiran.

Saya pun yakin Tuhan tidak pernah salah tempat, salah orang dan salah waktu (?). Mungkin juga, seperti ini seharusnya sekuen kehidupan saya di Bumi.

Lalu pikiranku kembali sok tau. Apakah, hidup sampai tua harus seperti ini?

Sejujurnya ada sesuatu dalam dadaku yang mulai merasa: Ada yang lebih besar yang mampu ku lakukan, lebih dari hidupku yang seperti ini.
5 MIRZARIFKI'S: July 2016 Termasuk diri sendiri yang tidak percaya bahwa kehidupan bisa membawa saya dalam kubikel kantor. Bekerja dari pukul 10 pagi sampai 8 mal...

Friday, July 15, 2016

Yakin Traveling Bikin Bahagia?



Saat ini saya sudah jarang sekali traveling. Karena menurut saya pribadi traveling pada mulanya adalah senang-senang, lalu kehampaan. Sesungguhnya para traveler menginginkan sesuatu hal yang lahir dari rasa keboasanan akan perjalanan yang 'gitu-gitu aja', yang makin lama makin terasa hedonistik, yang mungkin dianggap tak punya fungsi sosial budaya selain soal keren-kerenan (Atau mungkin gaya traveling kita yang salah).

Sering juga mendengar teman berceloteh atau update status yang bilang "Andai saya bisa jalan-jalan setahun lebih tentu saya akan jadi bahagia" Atau kamu sependapat dengan mereka? Dan apa benar traveling bisa membawa kebahagiaan?

Kalau kamu langsung bilan iya sebelum baca hasil penetian Profesor Jeroen Nawijn dari Universitas Breda, Belanda. Dalam penelitiannya yang berjudul Happinnes only real when shared. Salah deh, itu quotenya Christopher Mccandles. Yang berjudul Happiness Through Vacationing: Just a Temporary Boost or Long-Term Benefits? dalam Journal of Happiness Studies tahun 2010, ia mencoba meneliti apa benar kebahagiaan jangka panjang bisa didapat melalui liburan.

Ia menulis, masyarakat modern menuntut setiap individu di dalamnya untuk terus konsumtif dan bekerja lebih keras, karenanya kita jadi memiliki kebutuhan tinggi untuk bersantai dan bersenang-senang. Kegiatan yang kita lakukan di waktu senggang adalah pelarian dari pekerjaan, bersenang-senang adalah cara kita untuk bersantai dan melepas stress. Lebih dari itu, setiap individu memiliki kebutuhan untuk melakukan sesuatu yang jauh dari kata biasa—untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari saja orang butuh pengalaman berbeda. Pengalaman yang jarang dinikmati, seperti pengalaman berlibur, menjadi semakin terjangkau bagi banyak orang di seluruh dunia; frekuensi perjalanan semakin meningkat beberapa tahun belakangan ini dan kedatangan wisatawan diperkirakan akan meningkat drastis dalam beberapa dekade ke depan.

Tapi..... kok iklan-iklan industri pariwisata menampilkan wajah yang tersenyum cerah, pantai dengan langit biru, dan orang-orang yang sedang menikmati hidupnya?

Maka kembali lagi, apa kita benar-benar menjadi bahagia lebih lama dengan melakukan perjalanan atau berlibur?

Jadi, menurut kamu liburan itu membahagiakan, membuat kembali bahagia, atau sebenernya dipaksa untuk bahagia aja gitu.. he he.

Karena sesungguhnya traveling juga kajian, bukan hanya hiasan. Betul toh? :)
5 MIRZARIFKI'S: July 2016 Saat ini saya sudah jarang sekali traveling. Karena menurut saya pribadi traveling pada mulanya adalah senang-senang, lalu kehampaan. S...
< >