+ -

Sunday, October 20, 2013

Menolak lupa? hmm




Jika kita melihat pemandangan negeri untuk saat ini. Maka kita seringkali di bayang-bayangi tentang permasalahan di dalam instansi pemerintahan. Banyak narasi sejarah saat ini yang membawa kita semakin dekat kepada suatu kebenaran historis. Saya bukan bicara tentang pemerintahan yang gagal, atau pun tentang ‘keluarga pemerintah’. tapi disini saya berbicara tentang kebenaran historis permasalahan masa lalu yang akhirnya terungkap. terutama jika narasi-narasi itu bicara mengenai masa lalu yang gelap, atau mengenai ingatan yang dipandang memalukan hingga harus dibungkam, diabaikan, bahkan dilupakan, termasuk dengan cara membohongi diri sendiri. Atau kita memang suka melupakan tentang permasalahan? Sampai-sampai kita sering membuungkam diri kita sendiri. Beberapa tahun ini saya sering melihat hastag #menolaklupa. 

Awalnya memang saya tidak terlalu tahu tentang hastag ini. Saya sadar manusia itu penuh dengan rasa keingintahuan. Setelah melihat hastag tersebut, topiknya membahas “jangan pernah melupakan”. Contoh kasus yang sering di angkat adalah kasus munir. lalu saya berpikir “apakah kita memang sudah menjadi makanan sehari-hari dalam melupakan suatu permasalahan yang belum selesai? Atau kita belum juga kenyang?” teringat sosok gie yang benar-benar dibutuhkan dalam keadaan saat ini. Saya bukan orang organisasi mahasiswa, saya hanya mahasiswa biasa yang berbicara melihat keadaan sekitar lewat tulisan. Saya terlalu muak dengan keadaan saat ini. Saya butuh mengeluarkan aspirasi saya.

Jika kita membahas hal ini, maka saya akan berangkat dahulu melalui pemikiran yang selalu diturunkan oleh orang-orang dahulu. Tidak lepas dari pandangan ilmu pengetahuan, maka sebenarnya kita ini masih dari ciptaan order baru. Mengapa? Kita akan melihat pemikiran-pemikiran orangtua kita. Mereka selalu menginginkan kita, bahkan dipaksa agar masuk ke jurusan IPA ketika di SMA. Lalu apa hubungannya? Di jaman order baru orang ‘digenjot’ agar masuk jurusan IPA. Mereka takut ada saingan, bahkan kecaman jika rakyat mempelajari tentang politik. Lagi, dan lagi kita masih saja selalu mengikuti hal tersebut. Mungkin ini lah kenapa ada hastag tersebut. Kita terlalu sering lupa-lupa. Sampai-sampai hal politik saja kita acuh. Bahkan memandang ‘jijik’ terhadap hal ini. Terlalu miris jika kita melihat keadaan saat ini. 

Kawan, tiap zaman akan meminta sebuah tumbal untuk perubahannya. Zaman yang akan hadir kali ini meminta kita sebagai tumbalnya. Bukankah kita hanyalah “air mata” dari “mata” yang berada di zaman setelah kita? Sepatutnyalah kita sebagaimana halnya tumbal melakukan tugasnya dan berfungsi sebaik-baiknya.
5 MIRZARIFKI'S: Menolak lupa? hmm Jika kita melihat pemandangan negeri untuk saat ini. Maka kita seringkali di bayang-bayangi tentang permasalahan di dalam instansi pe...

No comments:

Post a Comment

< >